Pengunjung Web Mulai Tgl, 3 Juni 2015Flag Counter

Dato' Dr. Mashitah

Hampir semua jajaran staf dan karyawan Kopi Luwak Cikole Lembang Bandung tidak tahu bahwa tamu yang datang pada saat itu adalah salah satu orang penting dari negeri Jiran Malaysia yakni Dato' Dr. Mashitah Ibrahim Timbalan Menteri di Jabatan Perdana Menteri Malaysia.

 

 

Kopi Luwak Tetap Primadona
Oleh RED 13 Juli 2015 06:18 WIB
BANDUNG (SK)

Kopi luwak sudah terkenal di dunia karena diperoleh dengan cara mengumpulkan biji kopi yang keluar bersamaan kotoran (fases) binatang luwak. Selain prosesnya istimewa, harganya pun “wah”, Rp3 juta per kilo.

Akibat harga yang menggiurkan tersebut muncul kreativitas masyarakat dalam memroduksi kopi luwak secara cepat tanpa memperhatikan hak hidup binatangnya serta menurunkan kualitas rasanya.

“Kopi luwak masih menjadi primadona pengolahan. Biji diproses lewat luwak membuat kopi punya nilai tambah dan dijual harga tinggi,” terang Emilia Hara-hap, Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian saat mengunjungi Rumah Kopi Luwak Cikole di Lembang Bandung, pekan lalu.

Emilia mengatakan, kopi luwak yang diproduksi secara cepat pada umumnya mempunyai kualitas kopi tidak memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), seperti telah ditemukan adanya pemalsuan atau pencampuran biji kopi luwak dengan non-luwak. Hal ini sangat merugikan konsumen.

Untuk memenuhi prinsip kesejahteraan hewan dan kehalalan serta keamanan pangan dan kelestarian lingkungan, Kementerian Pertanian mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 37 tahun 2015 tentang cara produksi kopi luwak melalui pemeliharaan luwak yang memenuhi prinsip “kehewanan”.

Emilia menambahkan, ada empat prinsip sebagai dasar acuan dalam memroduksi kopi luwak yang terjamin kesejahteraannya. Di antaranya, prinsip kesejahteraan hewan, prinsip kehalalan produksi kopi luwak, prinsip keamanan pangan dan prinsip kelestarian lingkungan.

Hadirnya Pusat Penangkaran dan Pusat Edukasi kopi luwak yang berlokasi di Jalan Nyalindung Nomor 9 Kampung Babakan Desa Cikole Kecamatan Lembang, Bandung ini, menurut Emilia, merupakan model percontohan cara produksi luwak yang memenuhi prinsip kesejahteraan hewan.

Pemilik Rumah Kopi Luwak Cikole, Sugeng Pujiono, seorang dokter hewan, mengawali usahanya dari kegiatan penelitian luwak yang mampu menghasilkan kopi istimewa.
Hewan luwak yang ditangkarnya diberi perhatian aspek animal welfare atau kesejahteraan

 

 

 

Cewek Bule berparas cantik asal Irlandia inipun ternyata sangat penyayang dengan binatang salah satunya CIKO, musang yang ada di Kopi Luwak Cikole Lembang Bandung. Sudah terlihat dari cara mengendong musang/luwak bagaikan orang yang professional, lebih rilex, dan lebih tenang, ini menandakan bahwa cewek bule yang satu ini memang sudah terbiasa melakukan hal itu.

TAN SRI ANWAR MUSA

Wakil Menteri Sukan Malaysia ini mem bawa rombongan 45 orang dari kementerian olah raga asal negeri Jiran.

Baca Selengkapnya