Pengunjung Web Mulai Tgl, 3 Juni 2015Flag Counter

Dato' Dr. Mashitah

Hampir semua jajaran staf dan karyawan Kopi Luwak Cikole Lembang Bandung tidak tahu bahwa tamu yang datang pada saat itu adalah salah satu orang penting dari negeri Jiran Malaysia yakni Dato' Dr. Mashitah Ibrahim Timbalan Menteri di Jabatan Perdana Menteri Malaysia.

 

 

Ekonomi & Bisnis
Kopi Luwak Makin Populer Di Dunia, Sudah Dipayungi Permentan
Jumat, 10 Juli 201510:32 am

Reporter Baheramsyah Ditayangkan R. Mustakim

Bandung, InfoPublik - Kopi luwak merupakan produk kopi khas Indonesia dan sudah terkenal di dunia internasional yang diperoleh dengan cara mengumpulkan biji kopi yang keluar bersamaan kotoran (fases) luwak.


Mulanya kopi luwak diperoleh dari luwak liar yang hidup secara alamiah. Akan tetapi sejalan dengan meningkatnya permintaan pasar dengan harga yang tinggi maka kopi yang diproduksi dengan luwak saat ini lebih banyak diperoleh dari luwak yang dipelihara. Namun dalam perjalanannya akhir-akhir ini timbul kreativitas masyarakat untuk memproduksi kopi luwak secara cepat.


"Kopi luwak masih menjadi primadona pengolahan biji kopi supaya kopi punya nilai tambah dan dijual harga tinggi," terang Emilia Harahap, Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian saat mengunjungi Rumah Kopi Luwak Cikole di Lembang Bandung, Kamis (9/7).


Emilia mengatakan, kopi luwak yang diproduksi secara cepat pada umumnya mempunyai kualitas kopi tidak memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), seperti telah ditemukan adanya pemalsuan atau pencampuran biji kopi luwak dengan non luwak. Hal ini sangat merugikan konsumen.


Terlebih lagi apabila diproduksi dengan cara yang tidak memenuhi prinsip kesejahteraan hewan dan kehalalan yang dapat merusak citra kopi luwak Indonesia. Untuk memenuhi prinsip kesejahteraan hewan dan kehalalan serta keamanan pangan dan kelestarian lingkungan, Kementerian Pertanian mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 37 tahun 2015 tentang cara produksi kopi luwak melalui pemeliharaan luwak yang memenuhi prinsip kesejahteraan hewan.


Emilia menambahkan, ada empat prinsip sebagai dasar acuan dalam memproduksi kopi luwak yang terjamin kesejahteraannya  diantaranya, prinsip kesejahteraan hewan, prinsip kehalalan produksi kopi luwak, prinsip keamanan pangan dan prinsip kelestarian lingkungan.


Hadirnya Pusat Penangkaran dan Pusat Edukasi kopi luwak yang berlokasi di Jalan Nyalindung Nomor 9 Kampung Babakan Desa Cikole Kecamatan Lembang, Bandung ini merupakan model percontohan cara produksi luwak yang memenuhi prinsip kesejahteraan hewan, tambahnya.


Pemilik Rumah Kopi Luwak Cikole, Sugeng Pujiono, seorang dokter hewan, mengawali usahanya dari kegiatan penelitian luwak yang mampu menghasilkan kopi istimewa. Hewan luwak yang ditangkarnya diberi perhatian aspek animal welfare atau kesejahteraan hewan. Diamati dari mulai habitat, pola makan, siklus birahi, pola perkawinan, penyakit dan penganggulangannya.


"Kandang penangkaran luwak kami buat sesuai prinsip kesejahteraan hewan. Luwak di sini diberi makanan bergizi dan dimanjakan. Luwak tidak setiap hari makan kopi, cuma 2 kali seminggu," ungkap Sugeng yang kini menangkar 110 ekor luwak.
Spesialnya dari Kopi Luwak Cikole ini, merupakan proyek percontohan implementasi Peraturan Menteri Pertanian Nomor 47 tahun 2015 tanggal 16 Juli 2015, tentang cara produksi kopi luwak melalui pemeliharaan luwak yang memenuhi prinsip kesejahteraan hewan.
Setiap bulannya, diolah 50 kilogram kopi arabica yang diperoleh dari Lembang dan sekitarnya. "Kami tidak olah banyak, karena itu bagian dari prinsip animal welfare. Kopi hanya jadi cemilan luwak," tambah Sugeng.


Anggota Asosiasi Kopi Luwak Indonesia ini bercerita, sejak memulai usahanya 4 tahun lalu, kini ia punya pelanggan dari Asia Tenggara, Timur Tengah, hingga Eropa.
"Turis mancanegara mulai dari ASEAN, Timur Tengah, hingga Eropa sering datang ke sini. Kita selalu out of stock. Kalau dituruti, permintaannya sampai 600 kg biji kopi per bulan. Padahal saya hanya produksi 50 kg per bulan," ungkapnya.


Sugeng mengaku meski permintaan banyak, ia tidak berambisi untuk memenuhi permintaan pasar. Menurutnya aspek kesejahteraan atau animal walfare luwak miliknya bisa terabaikan. Bila ingin memenuhi permintaan, konsekuensinya luwak harus memakan kopi lebih banyak, dan menambah jumlah luwak mencapai dua kali lipat dari jumlah yang dimilikinya saat ini

 

 

Cewek Bule berparas cantik asal Irlandia inipun ternyata sangat penyayang dengan binatang salah satunya CIKO, musang yang ada di Kopi Luwak Cikole Lembang Bandung. Sudah terlihat dari cara mengendong musang/luwak bagaikan orang yang professional, lebih rilex, dan lebih tenang, ini menandakan bahwa cewek bule yang satu ini memang sudah terbiasa melakukan hal itu.

TAN SRI ANWAR MUSA

Wakil Menteri Sukan Malaysia ini mem bawa rombongan 45 orang dari kementerian olah raga asal negeri Jiran.

Kunjungan rombongan kali ini sangat surprise mengingat

Baca Selengkapnya